PERKEMBANGAN KESENIAN REYOG TULUNGAGUNG TAHUN 1970-2016

MOHAMAD NGIZUL IRFAN

Abstract


Reyog Tulungagung merupakan gubahan tari rakyat, yang berasal dari Kabupaten Tulungagung. Kesenian ini memanfaatkan kendang sebagai alat utamanya. Reyog Tulungagung merupakan tari kendang yang dimainkan oleh 6 orang atau lebih dan diiringi gamelan. Ke-enam orang tersebut menari-nari sambil menabuh kendang yang di bawa masing-masing orang/penari.  Banyak versi mengenai nama dari kesenian ini, ada yang menyebut “Reog Gemblug”, “Reyog Kendhang”, dan “Reog Dhodhog" namun saat ini sudah berganti menjadi “Reyog Tulungagung” setelah pada bulan Maret 2010, telah mendapat pengakuan dari HKI Kementrian Hukum dan HAM Republik Indonesia yang tertuang dalam HKt-2-HI.01.01-08, yang ditandatangani oleh Direktur Hak Cipta Desain Industri Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu dan Rahasia Dagang Ir. Arry Ardanta Sigt MSc. Penerbitan SK HAKI ini bertujuan agar apabila suatu saat berkembang di daerah luar Tulunggung orang selalu mengetahui bahwa kesenian tersebut berasal dari Tulungagung.


Penelitian ini membahas, 1) perkembangan kesenian Reyog Tulungagung dari tahun 1970-2016, 2) peran serta pemerintah Kabupaten Tulungagung dalam upaya pelestarian kesenian Reyog Tulungagung di Tulungagung dari tahun 1970 – 2016, 3) dampak secara ekonomis kesenian Reyog Tulungagung. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah, langkah awal yaitu, heuristik dengan mengumpulkan sumber terkait dengan Kesenian Reyog Tulungagung. Data tentang kesennian Reyog Tulungagung yang berada di Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tulungagung. Penulis juga melakukan wawancara dengan narasumber (pelaku seni maupun yang terkait dalam upaya pelestarian kesenian Reyog Tulungagung) sumber sekunder : menggunakan buku,jurnal,koran dan majalah yang memberitakan atau membahas tentang Reyog Tulungagung. Kritik sumber dilakukan untuk memilah sumber baik primer maupun sekunder yang terkait dengan Kesenian Reyog Tulungagung. Interpretasi sumber digunakan untuk membandingkan sumber satu dengan sumber lain sehingga diperoleh fakta sejarah tentang Kesenian Reyog Tulungagung. Terakhir adalah historiografi, serangkaian fakta yang telah ditafsirkan akan disajikan sebagai cerita sejarah.


Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa Reyog Tulungagung sering mengalami pasang surut dalam perkembanganya. Hal ini di karenakan pemerintah baik daerah maupun pusat masih kurang peduli terhadap kesenian lokal. Reyog Tulungagung memiliki banyak versi cerita, namun yang dianggap merupakan asal-usul kesenian ini adalah cerita dari versi prajurit Bugis dan Dewi Kilisuci. Banyaknya versi cerita ini justru membuktikan bahwa kesenian ini mengalami perkembangan, baik dari unsur cerita maupun dalam bentuk sajiannya. Kesenian Reyog Tulungagung juga pernah mengalami surut dan hampir punah ketika tahun 1965 dengan adanya tragedi gerakan G30s/PKI. Tragedi tersebut membuat para seniman takut untuk memainkan kesenian ini. Ketakutan tersebut lantara para seniman Reyog Tulungagung takut dituduh anggota atau simpatisan PKI. Namun, Surutnya kesenian-kesenian lokal tersebut tidak berlangsung lama. Negara yang mulai memberikan pengontrolan seniman dengan membuatkan Nomor Induk Seniman (NIS) pada kurun waktu tahun 1965-1967.


Peran serta pemerintah daerah dan para seniman sangat berarti terhadap perkembangan kesenian ini. Karena tanpa dukungan dari pemerintah daerah mungkin kesenian Reyog Tulungagung tidak dapat berkembang pesat seperti sekarang. Seniman  juga semakin merasakan dampak yang positif dari berkembangnya kesenian Reyog Tulungagung ini. Banyaknya permintaan peralatan reyog, kostum, cindramata dan kebutuhan pelatih memberikan dampak secara ekonomis bagi para senimannya.


 


Kata Kunci: Kesenian, Reyog, Tulungagung


Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.