ANALISIS RETORIKA BASUKI TJAHAJA PURNAMA DALAM KAMPANYE RAKYAT PEMILIHAN KEPALA DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA DI RUMAH LEMBANG 2017 (KAJIAN RETORIKA ARISTOTELES)

Moch Ferdy Ardiansyah

Abstract


Abstrak


Retorika sangat berhubungan erat dengan kepiawaian seseorang dalam berbicara. Pemilihan Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta 2017 merupakan pesta demokrasi bagi warga Jakarta. Kegiatan tersebut merupakan kesempatan emas untuk memperoleh simpatis di kalangan masyarakat dengan cara mereka masing-masing seperti yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama. Penelitian ini meneliti bagaimana retorika Basuki Tjahaja Purnama dalam kampanye rakyat pemilihan Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta di Rumah Lembang Tahun 2017 dengan menggunakan teori lima hukum retorika dari Aristoteles dan bagaimana dampak dari retorika Basuki Tjahaja  Purnama dalam kampanye rakyat pemilihan Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta di Rumah Lembang Tahun 2017. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif, pengumpulan data dilakukan dengan teknik simak catat, sedangkan analisis data menggunakan metode deskripsi analisis dengan menggunakan teknik analisis teks. Data-data dalam penelitian ini dihimpun dari video Retorika Basuki Tjahaja Purnama saat kampanye rakyat di Rumah Lembang. Hasil dari penelitian ini adalah (1) Retorika Basuki Tjahaja Purnama secara tidak sadar menggunakan lima hukum retorika sebagai proses penciptaan materi pidato yang disampaikannya, (a) Inventio (Penemuan), ditemukan kesamaan konsep dari tema kampanye pemilihan Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Konsep yang ditemukan dalam keenam pidato tersebut menjelaskan tentang pendidikan, pembangunan kota wisata, banjir dan penataan perumahan, keadilan sosial dan aksesnya, fungsi BUMD, dan kesenian Jakarta. (b) Dispositio (Penyusunan) ditemukan sistematika susunan pidato yang digunakan oleh BTP, antara lain pendahuluan, Isi (pernyataan, argumen dan pembuktian), dan epilog (penutup), (c) Elocutio (Gaya), dalam pidato Basuki Tjahaja Purnama terdapat 11 gaya bahasa seperti Aliterasi, Asindeton, Eufemismus, Litotes, pleonasme, tautologi, perifrasis, prolepsis, erotesis, koreksio dan hiperbola. Dalam pidatonya didominasi oleh gaya bahasa erotesis sejumlah 25 data (d) Memoria (ingatan), Basuki Tjahaja Purnama menjadikan pengalaman-pengalamannya sebagai ajang untuk menyampaikan program kerja dan memperbaiki kembali program kerja yang dirasa kurang efisien di periode sebelumnya. (e) Pronountitio (penyampaian), dalam berpidato Basuki Tjahaja Purnama menyampaikannya dengan tiga rukun yakni memandang audiens, mengolah vokal, dan mengolah visual. Berdasarkan lima hukum retorika tersebut pidato yang dikemukakan oleh Basuki Tjahaja Purnama mampu memberi dampak signifikan terhadap kesuksesannya dalam memperoleh kepercayaan publik dan juga meningkatkan presentase kemenangan dalam Pemilihan Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta  putaran yang pertama.


Kata Kunci: Retorika, Lima Hukum Retorika (Inventio, Dispositio, Elocutio, Memoria, Pronountitio), Pilkada DKI Jakarta 2017.


Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.