SELBSTVERWIRKLICHUNG SIDDHARTHAS IM ROMAN „SIDDHARTHA“ VON HERMANN HESSE

FANY ARSIYANTI

Abstract


Roman Siddhartha, yang ditulis oleh Hermann Hesse pada tahun 1922, merupakan roman yang berpengaruh pada tahun 1960. Roman ini menceritakan sosok Siddhartha yang merupakan keturunan Brahmana, dimana Brahmana adalah kasta tertinggi dalam agama Hindu. Sebagai bentuk karya sastra yang sarat dengan aspek kejiwaan, Roman Siddharta tentu tidak lepas dari aspek kehidupan, karena sebuah karya sastra menyerap aspek kemanusiaan yang berasal dari pengarang maupun dari lingkungan pengarang. Aspek – aspek kemanusiaan tersebut masuk ke dalam ranah bidang psikologi, yang jika dikaitkan dengan karya sastra maka menghasilkan sebuah kajian atau disiplin baru yaitu psikologi sastra. Salah satu teori psikologi yang bisa diterapkan sesuai dengan roman tersebut adalah adalah teori kebutuhan bertingkat Abraham Maslow, yang memusatkan perhatiannya pada manusia sehat jasmani dan rohani yang  mampu mengaktualisasikan diri.


Berdasarkan  latar belakang tersebut, penelitian ini memfokuskan kajiannya pada dua rumusan permasalahan, yaitu (1) apa saja sifat – sifat orang teraktualisasi yang tidak muncul pada tokoh Siddhartha dalam roman berjudul Siddhartha karya Hermann Hesse, dan (2) mengapa sifat – sifat tersebut tidak muncul pada tokoh Siddhartha dalam roman berjudul Siddhartha karya Hermann Hesse melalui cara tokoh memenuhi kebutuhan aktualisasi dirinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mendeskripsikan sifat – sifat orang teraktualisasi yang tidak muncul pada tokoh Siddhartha dalam roman berjudul Siddhartha karya Hermann Hesse, dan (2) menemukan penyebab sifat – sifat tersebut tidak muncul pada tokoh Siddhartha dalam roman berjudul Siddhartha karya Hermann Hesse melalui cara tokoh memenuhi kebutuhan aktualisasi dirinya.


Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif analitis. Metode ini dilakukan dalam dua tahapan, yakni mengidentifikasi dan mendata kutipan – kutipan dari roman Siddhartha yang menunjukkan adanya negasi dari sifat-sifat orang teraktualisasi dengan mengacu pada teori kebutuhan bertingkat Abraham Maslow  dan kemudian mendeskripsikan relevansi data tersebut dengan teori kebutuhan bertingkat Abraham Maslow utamanya pada bagian kebutuhan meta.


Hasil penelitian menunjukkan bahwa menggunakan tolok ukur sifat – sifat orang teraktualisasi terdapat 7 sifat yang tidak sesuai dengan karakter Siddhartha pada roman tersebut yang menjadi dorongan yang memotivasi Siddhartha dalam mencapai kebutuhan bertingkatnya. Adapun sifat yang menjadi dorongan tersebut di antaranya : (1) persepsi yang efisien terhadap realitas, (2) penerimaan umum atas kodrat diri sendiri dan orang lain, (3) spontanitas, kewajaran, dan kesederhanaan, (4) memusatkan diri pada masalah dan bukan pada diri sendiri, (5) apresiasi yang senantiasa segar, (6) mampu membedakan sarana dan tujuan , dan (7) hubungan interpersonal yang kuat. Sifat – sifat yang bertentangan tersebut muncul dalam bentuk ketakutan, keresahan jiwa, ketidakpuasan, amarah, dan pencarian terhadap kepuasan batin, yang oleh penulis diungkapkan melalui tindakan, pemikiran, serta penilaian tokoh lain terhadap tokoh Siddhartha. Kemudian penyebab sifat – sifat tersebut tidak muncul pada proses Siddhartha mencapai kebutuhan aktualisasi dirinya adalah adanya motivasi yang kuat untuk memperoleh kebijaksanaan dan kedamaian membuat Siddhartha melalui banyak hal dan berproses dari segala kekurangan yang dia miliki.


Kata kunci: aktualisasi diri, kebutuhan meta


Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.