SIMULASI MONITORING EMISI GAS SO2SEBAGAI INDIKATOR BAHAYA LETUSAN GUNUNG APIUNTUK MELATIHKAN TINDAKAN EVAKUASI

APRILIAN EKA SAFITRI

Abstract


Abstrak
Posisi geografis Indonesia membawa konsekuensi geologis sebagai negara yang memiliki deretan gunung berapi aktif, oleh karena itu potensial mengalami bencana letusan gunung berapi. Meskipun telah banyak upaya dilakukan oleh pemerintah dan lembaga non-pemerintah dalam mengatasi dampak dan resiko bencana letusan, namun hampir semua upaya belum membuahkan hasil optimal. Studi mitigasi dan pengelolaan bencana bertumpu pada upaya pencegahan dini, oleh karena itu perlu diintegrasikan dalam kurikulum sains dan fisika universitas. Penelitian ini mempelajari relevansi antara emisi gas SO2 sebagai salah satu indikator bahaya letusan dan peluang letusan dengan memanfaatkan aplikasi Eruption yang mensimulasikan bencana letusan gunung berapi dan melibatkan 16 responden mahasiswa strata satu. Fokus penelitian adalah simulasi monitoring emisi gas SO2 sebagai basis pengambilan keputusan darurat bencana berupa tindakan evakuasi yang cepat dan tepat berdasarkan informasi yang diberikan oleh instrumen monitoring aktivitas vulkanik, yaitu cospec mengukur emisi gas SO2, seismometer mengukur frekuensi gempa vulkanik, dan geodimeter mengukur deformasi tanah. Tujuan penelitian ini adalah melatihkan kemampuan mengambil keputusan darurat kepada mahasiswa strata satu sebagai bagian dari sivitas akademik yang kelak akan menjadi anggota masyarakat. Temuan utama penelitian adalah sebagai berikut: (1) Proses geofisika dan geokimia adalah proses yang mengontrol aktivitas magmatik dan letusan gunung berapi; (2) peningkatan emisi gas SO2 per hari diikuti dengan membesarnya peluang bencana letusan; dan (3) keputusan tindakan evakuasi oleh semua responden penelitian menghasilkan rata-rata 47% dari total penduduk dapat diselamatkan dengan biaya operasional mencapai 27% dari total dana tersedia.
Kata Kunci: mitigasi bencana, emisi gas SO2, Eruption.
Abstract
Indonesia is a country located in the circumference of Pacific ring of fire and has so many active volcanoes, and thus potential to disaster due to volcanic eruption. Efforts for minimising impacts and reducing risks have been implemented by both the government and non-governmental body, but much has not yet been achieved. Attention must first be put on both education and public awareness as these are the cornerstone of fundamental approaches aimed at reducing vulnerabilities to geophysical hazards. Concern with program for disaster risk reduction gives room for Indonesian tertiary institutions to introduce knowledge and skill required for university students by integrating disaster preparedness into university science curricula. This research therefore examines the relevance between SO2 emission as one of volcanic eruption indicators and the probability for the eruption to occur. A small group of 16 undergraduate science students are involved and examine volcanic eruption simulation using an on-line software called Eruption. The study focuses upon monitoring of SO2 emission by running the program for disaster simulation as a basic mechanism of emergency decision making skill to evacuate people living near the volcano. The decision is based on information measured by three monitoring instruments for volcanic activities: cospec for SO2 emission, seismometer for earthquake frequency, and geodimeter for ground deformation. The aims of this study is thus to develop emergency decision making skills to university physics and science students as these are part of education processes. The primary research findings are as follows: (1) geophysical and geochemical processes control volcanic activity and eruption; (2) the probability for volcanic eruption is line with an increase in the level of SO2 emission; and (3) lives saved is 47% of total population with a total of 27% operational cost spent.
Keywords: mitigation of disaster, SO2 emission, Eruption


Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.