STUDI EKSPERIMEN KEKUATAN TARIK DAN KEKERASAN BAJA KARBON PEGAS DAUN AISI 1095 PADA MOBIL KIJANG KAPSUL 7K-EFI TAHUN 2000 DENGAN PERLAKUAN PANAS TEMPERING

RESKY ADITAMA, ARYA MAHENDRA SAKTI

Abstract


STUDI EKSPERIMEN KEKUATAN TARIK DAN KEKERASAN BAJA KARBON PEGAS DAUN AISI 1095 PADA MOBIL KIJANG KAPSUL 7K-EFI TAHUN 2000 DENGAN PERLAKUAN PANAS TEMPERINGResky AditamaS1 Teknik Mesin Manufaktur, Fakultas Teknik, Universitas Negeri SurabayaE-mail : reskyaditama@mhs.unesa.ac.idArya Mahendra SaktiJurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri SurabayaE-mail: aryamahendra@unesa.ac.idAbstrakSistem suspensi berfungsi untuk meredam getaran, dan meredam guncangan yang diterima kendaraan saat di jalan. Pada pengaplikasian baja pegas pada mobil kijang kapsul 7K-EFI tahun 2000 sering dijumpai beberapa masalah, misalnya patah pada salah satu lapisan baja pegas akibat sering menerima beban karena jalan yang bergelombang atau berlubang, elastisitas pegas dapat menurun setelah digunakan karena pegas terus menurus menerima gaya tarik saat menerima beban dan kembali ke bentuk semula, pegas akan menjadi panas mengakibatkan struktur pegas akan berubah dan pegas akan mengalami deformasi, pegas akan menjadi lebih keras dan elastisitas pegas akan menurun, lama kelamaan pegas akan mencapai titik lelah akibat umur lelah pegas yang sudah terlampaui, dan pegas akan mengalami putus. Perlakuan panas tempering bertujuan untuk meningkatkan ketangguhan dan keuletan baja. Penelitian ini dilakukan dengan memvariasikan suhu tempering 420°C, 540°C, dan 660°C. Benda kerja yang digunakan pada proses tempering adalah baja pegas baru mobil kijang kapsul AISI 1095. Sesudah proses pemanasan dilakukan tahap selajutnya, benda kerja akan dilakukan pengujian kekuatan tarik, dan kekerasan. Hasil pengujian kekuatan tarik dan kekerasan semakin tinggi proses pemanasan tempering maka kekuatan tarik dan kekerasan semakin menurun namun keuletan baja akan meningkat. Penurunan kekuatan tarik optimal terjadi pada temperatur 660˚C sebesar 657,08 Mpa, keuletan baja meningkat optimal pada temperatur 660˚C sebesar 8,94%. Kekerasan mengalami penurunan paling tinggi terjadi pada temperature 660˚C sebesar 34,95 HRC, menurun sebesar 31,6% dari kekerasan raw material sebesar 51,17 HRC.Kata kunci: Tempering, AISI 1095, Pegas Daun, Kekuatan Tarik, KekerasanAbstractThe suspension system serves to reduce vibration, and reduce the shock that the vehicle receives when on the road. In the application of spring steel to the 7K-EFI capsule kijang car in 2000 there were several problems, such as breaking on one spring steel layer due to frequent loads due to bumpy or perforated roads, spring elasticity can decrease after use because the spring continues to receive the pull force when receiving the load and returning to its original form, the spring will become hot causing the spring structure to change and the spring will deform, the spring will become harder and the elasticity of the spring will decrease, over time the spring will reach fatigue due to the tiredness of the spring that has been exceeded, and the spring will break. Tempering heat treatment aims to improve the toughness and tenacity of steel. This research was carried out by varying the tempering temperature of 420 ° C, 540 ° C, and 660 ° C. The workpiece used in the tempering process is the new spring steel capsule kijang AISI 1095. After the heating process is carried out the next step, the workpiece will be tested for tensile strength, and hardness. The test results of tensile strength and hardness the higher the tempering heating process, the tensile strength and hardness decreases but the steel tenacity will increase. The optimal reduction in tensile strength occurred at 660˚C at 657.08 Mpa, the steel tenacity increased optimally at 660˚C at 8.94%. Hardness experienced the highest decline occurred at 660˚C of 34.95 HRC, a decrease of 31.6% from raw material hardness of 51.17 HRC.Keywords: Tempering, AISI 1095, Leaf Spring, Tensile Strength, Hardness

Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.