PENERAPAN KONSELING KELOMPOK RASIONAL EMOTIF PERILAKU (REP) UNTUK MENGURANGI SCHOOL REFUSAL (PENOLAKAN SEKOLAH) SISWA KELAS VIII SMPN 1 CERME

Tri Lusi Oktaviani

Abstract


School refusal (penolakan sekolah) adalah gangguan emosional yang ditunjukkan dengan kecenderungan perilaku untuk tidak hadir di sekolah yang terjadi pada anak-anak atau remaja yang disertai dengan ketakutan yang tidak irasional. Peneliti menemukan fenomena school refusal (penolakan sekolah) di kelas VIII pada saat peneliti melakukan PPP (Program Pengelolaan Pembelajaran) di SMPN 1 Cerme. Masalah yang terlihat pada school refusal (penolakan sekolah) dapat dilihat siswa tidak masuk tanpa keterangan, siswa sakit, hingga siswa meninggalkan kelas. Penelitian ini bertujuan untuk menguji penerapan layanan konseling kelompok rasional emotif perilaku (REP) dengan menggunakan teknik disput imajinasi yang digunakan untuk mengurangi school refusal (penolakan sekolah) siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Cerme. Rancangan penelitian yang digunakan adalah pre-eksperimen dengan jenis penelitian one groub pre test-post test. Dalam penelitian ini menggunakan analisis data kuantitatif. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 4 siswa kelas VIII yang memiliki school refusal (penolakan sekolah) tinggi. Penelitian ini akan menggunakan statistik nonparametrik yaitu uji wilcoxon. Setelah dilakukan post–test maka diperoleh skor post-test kemudian dianalisis menggunakan uji statistik non-parametrik dengan uji wilcoxon. Setelah data post-test diolah diperoleh hasil bahwa terdapat 4 subjek yang menunjukan adanya penurunan school refusal (penolakan sekolah) pada siswa. Hal ini menunjukan bahwa konseling kelompok rasional emotif perilaku dapat menurunkan school refusal (penolakan sekolah) pada siswa SMP Negeri 1 Cerme setelah pemberian konseling kelompok rasional emotif perilaku (REP).Kata kunci: School Refusal (Penolakan Sekolah), Konseling Kelompok Rasional Emotif Perilaku (REP)


Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.