SENTIMEN ANTITIONGHOA PADA FILM NGENEST, CEK TOKO SEBELAH, DAN SUSAH SINYAL KARYA ERNEST PRAKASA (KAJIAN MICHEL FOUCAULT)

USFIAH NOVI HANIFAH

Abstract


Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa film dapat digunakan sebagai media kritik. Sentimen antiTionghoa pada ketiga film dapat dibuktikan dalam penelitian dengan menggunakan teori relasi kuasa Michel Foucault yang memiliki tiga pilar yakni, relasi kekuasaan, pengetahuan, dan seksualitas. Sesuai dengan teori yang digunakan, penelitianinimenggunakan metode deskripsi kualitatif dengan pendekatan mimetik untuk mengetahui bahwa sentimen antiTionghoa tidak hanya terjadi di film, tetapi juga terjadi pada kehidupan nyata di masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa saat ini masih terdapat masyarakat yang sentimen dengan etnis Tionghoa. Sentimen antiTionghoa tidak hanya dilakukan oleh masyarakat nonTionghoa saja, tetapi juga dilakukan oleh masyarakat Tionghoa itu sendiri. Bahkan sentimen antiTionghoa juga dilakukan oleh beberapa media di Indonesia yang pada artikel masih menggunakan kata “Cina”* untuk menyebut Tionghoa. Selain itu, adanya upaya pembauran masyarakat etnis Tionghoa dengan masyarakat nonTionghoa tidak diikuti dengan respon yang baik. Hal tersebut terjadi karena adanya kesenjangan sosial antara masyarakat keturunan Tionghoa dengan masyarakat nonTionghoa.

*dalam Bahasa Indonesia terdapat makna yang signifikan pada kata “Cina” dan “Tionghoa” sehingga tidak dapat diterjemahkan dalam bahasa Inggris


Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.