LEGITIMASI NEGARA ATAS MAHASISWA DALAM NOVEL LAUT BERCERITA KARYA LEILA S. CHUDORI: KAJIAN MAX WEBER

DEVIANA INDAH PERMATA NINGRUM

Abstract


Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori melalui teori tindak sosial Max Weber guna mengidentifikasi aspek legitimasi. Secara bertahap, penelitian membahas kajian struktural novel, bentuk tindak rasionalitas nilai, bentuk tindak rasionalitas instrumental, bentuk tindak afektif, bentuk tindak tradisional, dan bentuk legitimasi negara yang diterima oleh mahasiswa dalam novel Laut Bercerita. Sebagai penelitian kualitatif, penelitian ini menggunakan pendekatan mimetik dengan sumber data penelitian novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori yang terbit pada 2017 serta beberapa dokumen tertulis dan visual yang memuat legitimasi pada masa Orde Baru. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi pustaka dengan teknik simak catat. Metode analisis data yang digunakan adalah metode sosiologi sastra Max Weber. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pembacaan hermeneutika.

Hasil dari penelitian ini adalah (1) struktural fiksi dalam novel Laut Bercerita yang terdiri dari fakta cerita yang terdiri atas, sarana sastra, tema dan amanat. Alur campuran, tokoh yang berjumlah 30 orang di bab pertama dan kedua, latar tempat dan waktu dalam novel LB merupakan peristiwa yang dialami para tokoh, sedangkan latar sosial merupakan latar sosial keluarga para aktivis dan mahasiswa dan latar sosial dengan kebijakan-kebijakan sosial pada masa Orde Baru. Sudut pandang dalam novel LB orang pertama pelaku utama pada bab 1 sedangkan pada bab 2 sudut pandang orang pertama pelaku sampingan karena tokoh “aku” menceritakan tokoh lain. Tema mayor dalam novel LB adalah legitimasi dan dominasi, sedangkan tema minor berisi tentang perjuangan, keluarga, dan kesedihan. Amanat dalam novel LB berdasarkan isi novel yakni tetap berkontribusi, tidak menyerah dalam berjuang dan terutama agar masyarakat tahu bagaimana ketika masa Orde Baru pendapat dibungkam, menenteng buku sastra berarti menenteng bom, pemerintah dan intel yang berkuasa bertindak sewenang-wenang bahkan mahasiswa dihilangkan. (2) legitimasi negara dalam bentuk tindak rasionalitas nilai berjumlah sebelas bentuk seperti karya sastra dilarang, media dibungkam, melarang berhubungan dengan keluarga, penghilangan hak demokratis, kondisi keluarga yang menganggap anak-anaknya masih hidup, unjuk rasa mahasiswa yang menganggap negara salah, gerakan mahasiswa Winatra, Wirasena, dan Taraka, aksi Blangguan, masyarakat yang tidak peduli, aksi payung hitam, dan kondisi moral orang yang mencari anggota keluarga. (3) legitimasi negara dalam bentuk tindak rasionalitas instrumental sebanyak dua puluh dua bentuk seperti kekuatan negara dipegang kuat oleh militer, pelarangan berdiskusi, tidak adanya kebebasan berekspresi dan politik, pembredelan tiga media, intimidasi petani, intimidasi keluarga mahasiswa, pencarian orang yang menentang, dipenjara di ruang bawah tanah, interogasi secara keji, alat negara diktaktorial, pengancaman terhadap mahasiswa, penyiksaan terhadap orang yang menentang Orde Baru, penindasan terhadap rakyat, alat negara acuh, persaingan politisi, korupsi, pengasingan rakyat, pengepungan mahasiswa menggunakan senjata, pengintaian, Desaparasidos, tak ada keadilan, dan dampak tindak sosial rasionalitas instrumental. (4) legitimasi negara dalam bentuk tindak afektif sebanyak enam belas bentuk seperti, (5) legitimasi negara dalam bentuk tindak tradisional seperti kepemimpinan yang menjadi kebiasaan seperti DPR dan DPRD seperti septic tanc, aparat militer yang melakukan tindak kekerasan, kelambanan negara dalam menyelesaikan masalah, Desaparasidos, aksi di depan istana negara, aksi baju hitam dan payung hitam, aksi kamisan, melakukan pertemuan, dan kebiasaan keluarga di hari minggu., dan (6) legitimasi negara yang diterima oleh mahasiswa.


Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.