ADAT PERNIKAHAN DI DESA DIWET KECAMATAN BANGIL KABUPATEN PASURUAN (DITINJAU DARI TATA UPACARA, MAKNA YANG DISAJIKAN DAN MAKNA MAKANAN)

RISSA PUTRI ARIYANI

Abstract


 Upacara adat istiadat di desa Diwet merupakan salah satu upacara tradisional yang masih terus dilakukan karena merupakan adat istiadat yang turun menurun sehingga kenyataan ini menarik perhatian peneliti untuk mencermati lebih jauh. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui rangkaian kegiatan yang dilaksanakan pada upacara pernikahan, mengetahui jenis-jenis hidangan atau sajian makanan apa saja yang harus diketahui pada pelaksanaan adat istiadat pernikahan serta mengetahui makna sajian makanan bagi masyarakat desa Diwet Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan.


Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Fokus penelitiannya adalah rangkaian kegiatan upacara dana makna sajian makanan simbolik dari tata cara urutan pernikahan di desa Diwet Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan. Teknik pengumpulan datanya berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi.


Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rangkaian kegiatan yang dilaksanakan pada upacara pernikahan di Desa Diwet Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan terdiri dari 5 (lima) tahap, yaitu lamaran, kesaksian, siaga, rangkaian upacara, upacara puncak ijab qobul dan tukar cincin. Sajian makanan pada saat serah-serahan yaitu: jadah sebagai perlambangan makin eratnya hubungan persaudaraan, lapis agar rejeki berlapis-lapis, wajik bermakna filosofi, jenang melambangkan perjalanan hidup, buah-buahan bermakna penuh harap agar cinta mereka menghsilkan buah kasih yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat, daun sirih bermakna satu hati, berbulat tekad tanpa harus mengorbankan perbedaan, jenang blowok yang melambangkan perjalanan hidup. Sedangkan pada saat pasang tarub : pisang raja dan pisang pulut memiliki makna pengharapan agar pasangan yang akan dinikahkan kelak mempunyai kemakmuran dan kemuliaan seperti raja, nasi liwet, kopi pahit, roti tawar, mencerminkan kehidupan pribadi kita sehari-hari, jadah bakar, tempe keripik, tumpeng gundul melambangkan segala sesuatu yang kita makan, menjadi darah dan daging haruslah dipilih dari sumber yang bersih atau halal, dan nasi kebuli menggambarkan perjalanan hidup suami istri yang diharapkan selalu dalam keadaan selamat, mendapat berkah dari Tuhan, dan segala permintaan dan harapannya terkabulkan oleh Tuhan. 


Saran penelitian, bagi Pemerintah dan masyarakat hendaknya dapat mempertahankan budaya yang penuh makna dan simbolis ini di kota Bangil Pasuruan Jawa Timur. Perlu adanya sosialisasi kepada anak-anak sebagai penerus bangsa agar dapat melestarikan budaya yang telah ada.


Kata Kunci : Makna Sajian, Pernikahan, Adat Istiadat.


 Abstract


Ceremony in the village customs Diwet is one of the traditional ceremonies are still being done because it is a tradition that is passed down to the fact it attracted the attention of researchers to examine further. The purpose of the study is to examine a series of activities carried out on the wedding ceremony, knowing the types of dishes or serving any food that must be known to the implementation of the wedding customs and know the meaning of serving food for villagers Diwet Bangil Pasuruan.


This type of research is descriptive qualitative. The focus of his research is a series of ceremonies funds food dish symbolic meaning of marriage in order procedures Diwet village Bangil Pasuruan. Data collection techniques such as observation, interviews, and documentation.


Results of  this study indicate that a series of activities carried out at the wedding ceremony in the village of Pasuruan Diwet Bangil consists of 5 (five) stages, namely application, testimony, standby, series of ceremonies, ceremony consent ijab qobul and exchange rings. Serving food at the time of transfer of deliverables are: misbegotten as symbolism increasingly close ties of brotherhood, layers laminated to fortune, diamonds is philosophy, porridge symbolizes of life, meaningful fruits hopeful that they love the fruit of love is beneficial results were obtained for the family and community, betel leaf meaningful one heart, determinedly without sacrificing difference, porridge blowok which symbolizes the journey of life. While at high tide Tarub: plantain and banana sticky rice has a meaning of hope that the couple will be married someday have prosperity and glory as king, liwet rice, black coffee, bread, reflects our personal lives everyday, misbegotten fuel, tempeh chips, bare cone symbolizes everything we eat, blood and flesh must be selected from clean sources or halal, and rice kebuli describe married life journey is expected to always be safe, get a blessing from the Lord, and all the demands and wishes come true by God.


Recommendations, the Government and the public should be able to maintain full cultural and symbolic significance of this in the East Java town of Pasuruan Bangkil. There needs to be outreach to the children as the successor to the nation in order to preserve the existing culture.


Keywords: Meaning Serving, Wedding, Customs and Traditions.


Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.