Proses Berpikir Kreatif Siswa Kelas X-A SMA Negeri 1 Gedangan dalam Memecahkan Masalah Matematika pada Materi Peluang dengan Soal Higher Order Thinking Ditinjau dari Tingkat Berpikir Kreatif

YEFTA BAYU MAHENDRA

Abstract


Kemampuan berpikir kreatif menjadi hal penting dalam persaingan global. Menurut Global Creativity Index (GCI) dalam Ginting (2011) dari 82 negara yang diriset, Indonesia di urutan ke-81 untuk indeks kreativitas global dengan poin 0,037 di atas Kamboja yang mencatat poin 0,020. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nasional Republik Indonesia (Depdikbud, 2013) dinyakatan secara eksplisit kemampuan berpikir kreatif merupakan kemampuan yang akan dikembangkan dalam kurikulim 2013. Dengan demikian diperlukan instrumen yang dapat mengidentifikasi tingkat berpikir kreatif dan mendeskripsikan proses berpikir kreatif siswa dalam memecahkan masalah matematika. Dalam penelitian ini soal Higher Order Thinking (HOT) digunakan sebagai instrumen pembelajaran yang mampu meningkatkan kreativitas siswa dalam memecahkan masalah.


Penelitian  ini merupakan  penelitian  deskriptif  dengan pendekatan kualitatif. Subjek pada penelitian ini 36 siswa kelas X-A SMA Negeri 1 Gedangan, Sidoarjo pada tahun ajaran 2013/2014. Data pada penelitian ini diperoleh melalui metode tes tertulis dan wawancara. Seluruh subjek mengikuti tes tertulis dengan soal Higher Order Thinking (HOT) pada materi peluang. Hasil tes dianalisis untuk mengidentifikasi tingkat berpikir kreatif siswa dalam memecahkan masalah matematika berdasarkan komponen kreativitas : kefasihan, fleksibilitas dan kebaruan. Peneliti mewawancarai  4 subjek mewakili tingkat berpikir kreatif (TBK) untuk mendeskripsikan proses berpikir kreatif siswa dalam memecahkan masalah.


Hasil penelitian menunjukkan tingkat berpikir kreatif dari 36 siswa kelas X-A SMA Negeri 1 Gedangan dalam memecahkan masalah matematika pada materi peluang dengan soal Higher Order Thinking (HOT). Terdapat 16 siswa (44,44%) yang berada pada TBK 0 (tidak kreatif), 18 siswa (50%) yang berada pada TBK 1 (kurang kreatif), 1 siswa (2,78%) yang berada pada pada TBK 2 (cukup kreatif), 1 siswa (2,78%) yang berada pada TBK 3 (kreatif), dan 0 siswa (0%) yang berada pada TBK 4 (sangat kreatif). Deskripsi proses berpikir kreatif dari tiap tingkat berpikir kreatif merupakan hasil wawancara berdasarkan langkah-langkah pemecahan masalah oleh Polya kemudian dianalisis berdasarkan tahap-tahap proses berpikir kreatif yang dikembangkan oleh Wallas. Lalu dihubungkan  dengan  indikator penilaian Higher Order Thinking (HOT) sebagai indikator penilaian.


Kata kunci: berpikir kreatif, tingkat berpikir kreatif, kefasihan, fleksibilitas, kebaruan, proses berpikir kreatif, persiapan, inkubasi, iluminasi, verifikasi, masalah matematika, pemecahan masalah, dan soal Higher Order Thinking (HOT).


Full Text: DOCX

Refbacks

  • There are currently no refbacks.