ANALISIS PUTUSAN PENGADILAN NEGERI KUNINGAN NOMOR 118/Pid.Sus/2014/Pn.Kng TENTANG PEMIDANAAN BAGI PELAKU TINDAK PIDANA ABORSI

MUHAMMAD INDRA Y

Abstract


Abstrak


Putusan Pengadilan Negeri Kuningan Nomor 18/Pid.Sus/2014/PN.Kng adalah putusan yang memutus tentang tindak pidana aborsi Tindak pidana aborsi tersebut dilakukan oleh orang yang telah memasuki usia dewasa. Terdakwa dipidana selama tujuh bulan dan denda sebesar sepuluh juta rupiah. Penelitian ini menganalisis putusan yang digunakan untuk mendakwa terdakwa dan kaitannya dengan korban. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami putusan yang dijatuhkan kepada terdakwa tersebut tidak sesuai dengan peraturan Perundang-undangan dan teori tentang korban. Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, Putusan Pengadilan Negeri Kuningan  Nomor 118/Pid.Sus/2014/PN.KNG tidak sesuai jika dikaitkan dengan usia terdakwa. Terdakwa melakukan tindak pidana aborsi pada saat usianya memasuki usia 18 (delapan belas) tahun lebih 3 (tiga) hari tidak sesuai dikatkan dengan batasan usia dewasa pada Undang-undang perlindungan Anak.  Hakim kurang tepat mempertimbangkan hal meringankan yang menyebutkan bahwa terdakwa hakekatnya adalah anak-anak yang menjadi korban seksual orang dewasa, dan harus menanggung akibatnya. Terdakwa melakukan perzinahan dengan kakak iparnya tanpa paksaan dan berulangkal, maka hal peringan tersebut kurang sesuai. Putusan Pengadilan Negeri Kuningan  Nomor 118/Pid.Sus/2014/PN.KNG tidak sesuai jika dikaitkan dengan victimless crime. Terdakwa tidak bisa dibebaskan dari tuntutan karena terdakwa dianggap sebagai korban, terdakwa tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, karena menibulkan hilangnya nyawa janin yang ada dalam kandungannya.


Kata Kunci: putusan pengadilan, korban, victimless crime


Abstract


The Court ruling the country Brass number 18/Pid. Sus/2014/PN. Kng is the verdict a disconnect about the crime of abortion abortion a criminal offence was committed by a person who has entered adulthood. The defendants are convicted for seven months and a fine of ten million rupiah. This research analyzes the decisions used to indict the accused and relation to the victim. This research aims to know and understand the verdict that dropped to the defendant is not in accordance with the regulations and a theory about the victim. This research uses research methods with normative law legislation and conceptual approach. Based on the results obtained, the Court ruling the country Brass Number 118/Pid. Sus/2014/PN. KNG is not appropriate if linked to the age of the accused. The defendant committing the crime of abortion on when he entered the age of 18 (eighteen) years three (3) days does not comply with the age limit dikatkan adult on child protection legislation. Judges consider less precise terms of ease that mention that the defendant is about children who are victims of sexual adult, and must suffer the consequences. The defendant committed adultery with his brother-in-law without coercion and berulangkal, the less appropriate peringan comment. The Court ruling the country Brass Number 118/Pid. Sus/2014/PN. KNG is not appropriate if attributed to a victimless crime. The defendant could not be exempt from prosecution because the defendants are considered as victims, the defendant must still account for his deeds, because menibulkan fetal loss of life that exists in their subjects.


Keywords:  law enforcemen, victim, victimless crime.


Full Text: DOC

Refbacks

  • There are currently no refbacks.