RITUAL KELEMAN DAN METIK BAGI PETANI DESA WONOKASIAN, KECAMATAN WONOAYU, SIDOARJO

Ria Fara Dila

Abstract


Abstrak


Indonesia merupakan negara agraris dengan eksistensi desa yang selalu dilekatkan dengan mata pencaharian masyarakatnya sebagai petani, kegiatan bercocok tanam petani Indonesia memiliki prosesi kebudayaan yang sudah ada sejak zaman prasejarah. Aspek kebudayaan yang beragam tidak dapat dihilangkan begitu saja dari kepercayaan ghaib yang telah ada sejak dahulu, Ritual Keleman merupakan salah satu ritual persembahan yang masih dilakukan di Desa Wonokasian dengan prosesi selamatan (slametan) yang dilakukan secara bersama-sama oleh petani yang menggarap sawah dan juga warga masyarakat sekitar Desa Wonokasian, sedangkan dalam prosesi Ritual Metik dilakukan secara individu dengan menyesuaikan waktu panen padi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motif petani dalam melakukan Ritual Keleman dan Metik di Desa Wonokasian, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan teori Fenomenologi Alferd Schutz dengan pemaparan “Because of Motive” dan In Order to Motive”. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan dari perspektif teori Alferd Schutz. Subyek penelitian ini dipilih dengan menggunakan teknik purposive yaitu petani padi di Desa Wonokasian. Pengambilan data di lapangan dilakukan dengan observasi dan wawancara.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa motif yang melandasi petani dalam melaksanakan Ritual Keleman dan Metik terbagi menjadi dua yakni  motif yang melatarbelakangi atau “because of motive” petani yaitu kepercayaan terhadap cerita mitos Dewi Sri sebagai Dewi Padi sebagai akibat adanya pengaruh ajaran agama Hindhu-Budha. Karena kepercayaan pada Dewa/ Dewi pada masa prasejarah dianut oleh masyrakat beragama Hindu-Budha yang dipercaya memiliki tujuan baik dengan mengadakan ritual pemujaan salah satunya adalah Ritual Keleman dan Metik.


Kata Kunci : Motif, Keleman, Metik  


Abstract


Indonesia is an agricultural country with the existence of the village is always attached to the livelihoods of communities as farmers, farming activities Indonesian farmers have a procession culture that has existed since prehistoric times. Aspects of diverse cultures can not be eliminated just from trust the unseen which were of old, Ritual Keleman is one ritual offerings that are still performed in the village Wonokasian with a procession of salvation (slametan) conducted jointly by farmers working the fields and also Wonokasian citizens around the village, while the ritual procession metik done individually by adjusting the time the rice harvest. This study aims to determine the motive of farmers in performing rituals in the village Keleman and metik Wonokasian, Wonoayu subdistrict, Sidoarjo. This study uses the theory of phenomenology Alferd Schutz with the exposure "Because of Motive" and In Order to Motive ". This study used qualitative methods to approach from the perspective of the theory of Alferd Schutz. The subjects of this study were selected using purposive technique that rice farmers in the village Wonokasian. Collecting data in the field is done by observation and interview.The results of this study indicate that the motive underlying the farmer in carrying out the ritual Keleman and metik divided into two motive behind or "because of motive" farmers, namely belief in the mythical story of Dewi Sri as Dewi Padi as a result of the influence of the teachings of Hindu-Buddhist. Because of the belief in god / goddess in prehistoric times embraced by the Hindu-Buddhist society which is believed to have good cause to hold the ritual worship one of them is ritual Keleman and metik.


Keyword : motive, keleman, metik  


Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.