MOTIF KEPALA SEKOLAH DALAM PENYELENGGARAAN SEKOLAH INKLUSI SDN PANJUNAN II KALITIDU BOJONEGORO

Dwi Susanti

Abstract


Banyak permasalahan yang  nampak  pada dunia pendidikan, terutama pada kebijakan penyelenggaraan sekolah inklusi. Sekolah inklusi sendiri adalah sekolah reguler yang menerima siswa Berkebutuhan khusus dan menyediakan pelayanan sesuai kebutuhan siswa. Permasalahan yang terjadi saat ini pihak sekolah yang ditunjuk masih tidak optimal dalam menjalankan kebijakan sekolah inklusi. Pelanggaran yang dilakukan salah satunya adalah  berkeliaran ketika jam pelajaran dimulai, hal ini menimbulkan kecemburuan pada siswa reguler. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motif Kepala Sekolah dalam penyelenggaraan sekolah inklusi di SDN Panjunan II Kalitidu Bojonegoro. Penelitian ini menggunakan teori Afred Schutz menggunakan metode kualitatif, subjek penelitian dipilih menggunkan teknik purposive yaitu Kepala Sekolah. Pengambilan data di lapangan dilakukan dengan cara observasi dan proses wawancara, menggunakan analisis data dari Miles dan Huberman. Hasil dari penelitian  menjelaskan temuan because motif  kepala sekolah menerima tataran sekolah inklusi karena perintah dari pemerintah dan tidak dapat menolak perintah tersebut, serta penyetaraan semua siswa dapat membantu mewujudkan harapan orangtua, pada temuan in order to motif  meliputi kepala sekolah berharap mendapatkan dana tambahan, berharap agar di  lengkapi kebutuhan sarana dan prasarana sekolah, adanya guru pendamping khusus yang professional agar kegiatan pembelajaran menjadi optimal, walimurid ikut serta dalam perkembangan siswa ABK kedepan agar tercipta kesetaraan antara siswa reguler dengan ABK.


Kata Kunci: Pendidikan Inklusi, Kesetaraan, Anak Berkebutuhan Khusus.


Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.