PEWUJUDAN FENOMENA CINTA SEGI TIGA KEN DEDES DALAM KARYA TARI SANG NARESWARI

ACHMAD REDHA SATRIYA

Abstract


Kisah berdirinya Kerajaan Singasari tidak jauh terlepas dari tokoh wanita yang melegenda dengan berbagai kelebihan, kekurangan serta kontroversinya, yaitu Ken Dedes. Sosok Ken Dedes digambarkan sebagai sosok gadis cantik jelita, serta memiliki takdir akan menurunkan raja-raja besar di tanah Jawa. Kecantikan Ken Dedes menjadi alasan utama cinta segi tiga yang melibatkan dirinya. Adapun fokus kekaryaan tari ini akan menekankan pada fenomena cinta segi tiga Ken Dedes. Fokus tersebut dipilih karena ketertarikan koreografer akan sosok wanita yang memiliki berbagai kelebihan serta terlibat dalam kontroversi “besarnya”. Sosok wanita tersebut memiliki berbagai julukan, diantaranya: Ardha Nareswari, Garwa Kinasih, Nareswari, dan Prajnaparamita. Oleh karena itu maka judul karya tari ini juga diangkat dari salah satu julukan yang melekat pada diri Ken Dedes, yaitu: Sang Nareswari. Melalui karya tari yang berjudul Sang Nareswari, koreografer berusaha mengungkapkan gagasan isi garap mengenai cinta segi tiga Ken Dedes dalam bentuk garap bedhaya. Pemilihan bentuk garap ini dikarenakan bahwa koreografer ingin menyampaikan gagasan isi dalam bentuk simbolik serta menonjolkan penguatan suasana tanpa menggelar cerita yang menjadi kekuatan tersendiri dari koreografer dalam menciptakan sebuah karya tari.
Dalam melakukan proses penciptaan karya tari Sang Nareswari ini koreografer terlebih dahulu melakukan pengkajian terhadap berbagai karya tari yang telah dicipta oleh koreografer terdahulu. Kajian teori dalam karya tari Sang Nareswari, merujuk pada teori-teori koreografi/ komposisi tari, bedhaya dan kisah cinta segi tiga Ken Dedes. Metode penciptaan melalui beberapa tahap kegiatan yaitu: pendekatan penciptaan, metode menemukan fokus karya, konsep penciptaan, serta proses penciptaan.
Karya tari ini membawakan cerita cinta segi tiga Ken Dedes dalam mode penyajian simbolik dengan tipe karya liris-dramatik. Dimana isi garap tidak digelar secara bercerita namun diwakilkan oleh tembangan tokoh serta pengaturan alur dan penggambaran secara simbolik melalui gerakan tari. Karya tari ini berhasil mewujudkan fenomena cinta segi tiga Ken Dedes dalam genre bedhaya. Dari segi bentuk visual (tata rias dan busana) pendekatan desain terhadap arca Prajnaparamita terlihat sangat jelas tertuang dengan baik dalam tata rias dan busana yang dikenakan penari. Alur penggarapan Sang Nareswari mengikuti alur garap bedhaya, dimana dapat dilihat dari pembagian per adegan dimulai dari Maju Beksan, Sembahan, Beksan Pokok Awal, Beksan Pokok Rakit Gelar, Beksan Pokok Akhir, dan Mundur Beksan.

Kata Kunci: Sang Nareswari,  Ken Dedes, karya tari, koreografi, komposisi tari, bedhaya, koreografer .


Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.