UNGKAPAN KEANGGUNAN WANITA TIONGHOA SURABAYA DALAM TIPE TARI DRAMATIK MELALUI KARYA TARI “JUAN”

KENYA KUSESWARI KANZHIRENGGANI, DJOKO TUTUKO

Abstract


Surabaya memiliki macam etnis sebagai masyarakatnya.salah satunya adalah etnis Tionghoa. Tionghoa hadir di Indonesia sudah sejak lama masuk dengan jalur perdagangan tepatnya di daerah utara Surabaya, mereka berdagang dan sukses berkembang di Indonesia sehingga mereka sungguh untuk tinggal dan menetap di Indonesia. Dari berbagai khas yang menarik dari Tionghoa, wanita tionghoa menjadi suatu khas yang menarik untuk di amati keelokan,kecantikan,dan keindahan yang dimilikinya membuat insan yang melihat hanyut dalam pandangannya. Fenomena tersebut yang melatar belakangi pada karya tari Juan ini. Karya tari Juan memiliki 2 variabel bentuk dan isi. Variabel bentuk yang digunakan adalah tipe tari dramatik dan variabel isi menceritakan tentang sosok wanita Tionghoa yang memiliki keanggunan dan keindahan dalam kesehariannya namun kini telah bergeser yang tidak ditemukan lagi pada wanita keturunan Tionghoa pada zaman sekarang. Penciptaan karya tari Juan yaitu sebagai wujud realisasi dari ide koregrafer dan Untuk bentuk pendeskripsian, mengkaji dan menganlisa dari karya tari “Juan”. Sehingga karya tari ini tidak hanya dipahami oleh visual namun juga tersaji jelas secara teori. Metode yang digunakan adalah metode kontruksi oleh Jacqluline Smith sebagai acuan dan pijakan untuk membuat karya tari Juan ini.Kajian teori digunakan sebagai acuan atau pijakan untuk membuat sebuah karya sehingga karya yang tersaji tidak keluar dari kaidah-kaidah yang sudah ada, selain itu juga mempermudah proses menjadi lebih sistematis dan tertata rapi. Metode Kontrukasi oleh Jacqluline Smith menjadi pijakan dalam pembuatan karya “Juan”. Proses sesuai dengan metode kontruksi dimulai dari tema yang dipilih yaitu keanggunan . Judul yang di ambil “Juan” yang merupakan kata dari bahasa Cina yang memiliki arti indah menggambarkan laku indah seorang wanita Tionghoa . Tipe tari dramatik dipilih karena sinkron dengan keingan koreografer yang tidak ingin memunculkan tokoh yang spesifik dan cerita yang terlalu fulgar . Mode yang digunakan simbolis karena menggunakan simbol-simbol untuk menggambarkan gerak dan maksud, kemudian representatif karena mempresentasikan kembali bentuk objek wanita Tionghoa kedalam panggung. Teknik berasal dari kemampuan koreografer mengolah gerak sehingga menjadi karya yang baru murni dari pemikiran koreografer. Gaya yang digunakan tari tradisi Surabaya dan Cina yang diolah lalu dikembangkan dengan selaras. Jumlah penari sebanyak 5 orang wanita yang berperan menjadi wanita Tionghoa Surabaya dengan sifat yang anggun. Tata Teknik Pentas yang digunakan panggung prosenium dengan tata pencahayaan yang lengkap. Iringanyang digunakan merupakan ansamble instrumen campuran antara diatonis dan pentatonis bernuansa Jawa dan Cina.
Kata Kunci: Etnis,Tionghoa,Dramatik,Wanita

Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.