STRATEGI BERTAHAN HIDUP PERAJIN SULING BAMBU KELURAHAN GAYAM KECAMATAN MOJOROTO KOTA KEDIRI

ROMANA RUBI E M

Abstract


Abstract


Bamboo flute is one of  the greatest musical instrument for the handicrafts workers in Gayam village, sub district of Mojoroto, city of Kediri. Bamboo flute is one of traditional art musical instrument inherited by local ancestor in gayam village. Since 1950 until now, bamboo flute handicrafts workers declined significantly from 83 to 5 handicrafts workers. This happened because of rare raw materials and the monetary crisis in 1998.


Research was to know handicraft workers’ survival startegy to fulfill their family needs. The subject of study were 9 bamboo flute workers who lived in Gayam village, consisting of 5 informants bamboo flute handicrafts workers, 3 informants who were  former Bamboo flute handicrafts worker, and key informants was a local officials. This study used qualitative research conducted by the use of the basic theories of james c scoot.


The result of this research showed that bamboo flute handicrafts workers used 3 survival strategy includin, strategy of adding up the expenditure add up, managing expenditure, and using network. Although handicrafts workers were still  classified as the poor family, but they felt prosperous society in their own personal .When handicrafts workers stop being an bamboo flute handicrafts workers they felt not being prosperous. This feeling happened because they were happy to be a Bamboo flute and could  continue cultural heritage as Bamboo flute in Gayam village, sub district of  Mojoroto, city of Kediri. 


Keywords: handicrafts workers, survival strategy, prosperous


 


Abstrak


Suling bambu adalah salah satu alat musik yang menjadi andalan bagi para perajin di Kelurahan Gayam Kecamatan Mojoroto Kota Kediri. Suling bambu yang ada di Kelurahan Gayam adalah salah satu seni tradisional alat musik yang diwariskan turun temurun oleh nenek moyang Kelurahan Gayam setempat. Dari tahun 1950 sampai sekarang suling bambu mengalami penurunan jumlah perajin yang signifikan dari 83 perajin menjadi 5 perajin. Penurunan yang signifikan di karenakan bahan baku yang langka dan krisis moneter tahun 1998.


Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Gayam Kecamatan Mojoroto Kota Kediri. Penelitian ditarik dari strategi bertahan hidup perajin suling bambu demi kesejahteraan kehidupan keluarga perajin yang menurut Scoot ada 3 strategi yaitu strategi alternative substansi, strategi mengikat sabuk lebih kencang dan strategi jaringan. Subjek penelitian adalah perajin suling bambu yang hidup di Kelurahan Gayam dengan jumlah informan 9 orang, terdiri dari 5 informan perajin suling bambu, 3 informan mantan perajin suling bambu, dan informan kunci lurah setempat. Penelitian diangkat dengan metode penelitian kualitatif.


Hasil penelitian ini menggambarkan perajin suling bambu yang masih bertahan di karenakan menggunakan 3 strategi bertahan hidup antara lain strategi menambah pemasukan, mengatur pengeluaran, dan memanfaatkan jaringan. Keadaan ekonomi perajin yang dikategorikan masyarakat miskin, perajin suling bambu adalah masyarakat yang sejahtera secara pribadi mereka sendiri. Ketika perajin berhenti menjadi seorang perajin suling bambu di situlah perajin merasa mereka tidak sejahtera, di karenakan yang diinginkan perajin suling bambu ialah menjadi seorang perajin dan meneruskan warisan budaya suling bambu yang ada didaerah Kelurahan Gayam Kecamatan Mojoroto Kota Kediri.


Kata Kunci : Perajin, Strategi Beretahan Hidup, Kesejahteraan


Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.