STUDI TENTANG SAJIAN BUBUR HARISAH SEBAGAI MAKANAN KHAS HAUL MBAH SHOLIH TSANI DI PONDOK PESANTREN QOMARUDDIN SAMPURNAN BUNGAH GRESIK

RIZKA AULIA, RIZKA AULIA

Abstract


Abstrak


Gresik merupakan salah satu wilayah di pulau Jawa yang dikenal sebagai kota industri yang memiliki obyek wisata yang khas dan tidak kalah menarik seperti wisata budaya salah satunya Komplek Makam Mbah Sholih Tsani yang terletak di Desa Bungah. Komplek Makam ini akan ramai dengan penjual seperti itu hanya pada waktu Haul atau dimana hari itu memperingati hari wafat Mbah Sholih Tsani, tepatnya pada hari kamis, 24 Jumadil Ula. Setiap tahun pada tanggal tersebut keluarga besar Pondok Pesantren Qomaruddin memperingati dan semua santri serta penduduk setempat membaca do’a bersama-sama.Pada saat ini bubur harisah disajikan sebagai makanan khas yang harus ada pada acara tersebut dan dibagikan ke masyarakat. Bubur Harisah adalah bubur yang berbahan pokok daging kambing, gandum  serta bahan tambahan berupa bumbu-bumbu yang berasal dari Timur Tengah, seperti minyak samin, kapulaga, herbal dan rempah-rempah. Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh deskripsi tentang: 1) latar historis sajian Bubur Harisah, 2) proses pembuatan dan cara penyajian Bubur Harisah, dan 3) makna sajian hidangan Bubur Harisah.


Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dengan menggunakan teknik: metode observasi,  metode wawancara, metode dokementasi, metode triangulasi. Sumber data diperoleh dari Kepala Desa, Sesepuh Pondok Pesantren, Pembuat Bubur Harisah, Panitia pelaksana Haul, masyarakat setempat, dan masyarakat pendatang.


Hasil penelitian menunjukkan bahwa bubur harisah  diproduksi secara turun menurun sejak awal haul Mbah Sholeh Tsani hingga haul pada tahun ini, meskipun pemangku Pondok sudah berganti akan tetapi makanan tersebut tetap menjadi sajian makanan wajib. Dalam pembuatan, dibutuhkan: 22kg daging domba, 12kg gandum, 6kg beras, 500gram garam, 2kg serai, 2.5kg jahe,  2kg bawang merah, 1kg bawang putih, 1kg ketumbar, 600gram jintan, 300gram kapulaga, 700gram merica, 100gram cengkeh, 300gram kayu manis dan 70 liter air mineral. Bubur harisah dimasak selama 12 jam, dengan cara penyajian diletakkan di dalam wadah yang terbuat dari daun lontar. Bubur harisah mempunyai makna mendapatkan keberkahan dari Mbah Sholih Tsani, serta ada makna kebersamaan dalam setiap proses pelaksanaan haul, tidak lupa dengan makna yang lain yaitu suatu pemberian seseorang bisa dikatakan shadaqah atau kedermawanan. Disarankan bagi Pondok Pesantren untuk memberikan dapur khusus dalam proses produksi bubur harisah.


Kata kunci : Bubur Harisah, Mbah Sholeh Tsani, Desa Bungah


Abstract


                    Gresik is one region on the island of Java , known as an industrial city that has a distinctive tourist attraction and no less interesting as cultural tourism one Mbah Sholih Tsani located in the village of Bungah. Mbah Sholih Tsani’s grave is located in the village of Bungah. This grave will be crowded with sellers when the Haul time. The Haul time is the day to commemorate the Mbah Sholih Tsani’s pass away, exactly at Thursday, 24th Jumadil Ula (The 5th month of the arabic calender) every years, at that time the big family of Qomaruddin moslem boarding school and the villagers commemorate it, they pray together. After that Harisah porridge is served as typical food and must be disseminated to the villagers. The main ingredient of harisah porridge is mutton and wheat, and additional materials such as spices from midle east like, oil cumin, cardamom, herb and spices.The purpose of this study was to obtain a description of: 1) The historical background of the harisah porridge, 2) The process of making and manner of presentation Harisah Porridge and, 3) The meaning of dish Harisah Porridge.


The method of this research is descriptive qualitative. Data collected by using: The method of observation, The method of interview, The method of documentation, The method of triangulation.Sources of data obtained from Elders Moslem Boarding School, maker Harisah Porridge, Haul organizing committee , local communities and immigrant communities.

The results showed that harisah porridge produced here ditary since the first Haul Mbah Sholih Tsani’s to Haul this year, although the holder of Qomaruddin moslem boarding school has changed, the food still become a dish of mandatory. In the produced needed: 22kg mutton, 12kg Wheat, 6kg rice, 500grams salt, 2kg lemon grass, 2.5kg ginger, 2kg shallot, 1kg garlic, 1kg coriander, 600grams caraway, 300grams cardamom, 700grams pepper, 100grams clove, 300grams cinnamon, 70lt mineral water. Harisahporridgecookedfor 12 hours, with themanner of presentationplaced incontainers madeofpalm leaves. Harisah porridge having meaning to getthe blessing of Mbah Shalih Thani’s, and there is the meaning of togetherness in every process of implementation haul. Do notforget the other meaning that a provision of a personcan be said to charity or generosity. Suggested for moslem boarding school to provide special kitchen in the production process harisah porridge.


Keywords: Harisah Porridge, Mbah SholihTsani’s, Bungah Village.


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.