VISUALISASI GENERASI MENUNDUK DALAM BENTUK PERTUNJUKAN DANCE THEATER PADA KARYA “PARADOKS”

AGUS SETIAWAN

Abstract


Pada karya dengan judul Paradoks, penulis yang sekaligus menjadi koreografer mengangkat fenomena paradoks yang terjadi di tengah masyarakat yaitu masyarakat yang merubah kebiasaannya menjadi menunduk karena ketergantungan dengan gadget.

Kebiasaan itu disebut dengan generasi menunduk. Paradoks merupakan penyataan yang seolah-olah bertentangan dengan pendapat umum atau kebenaran atau bersifat kontradiksi tetapi kenyataannya mengandung kebenaran. Fokus pada karya ini adalah paradoks tentang generasi menunduk yang nantinya akan divisualisasikan menjadi sesuatu yang baru dari bentuk penyajiannya dan dikemas dalam bentuk pertunjukan dance theater.

Hasil penciptaan relevan, terinspirasi dari karya “Paradox” koreografer Rizza Ahmad dan Mirna Arfianti. Pendekatan pada karya tari Paradoks menggunakan metode kontruksi. Penafsiran koreografer terhadap paradoks yang terjadi di masyarakat tentang generasi menunduk, dianjutkan pada tahap proses kreatif, diantaranya ekplorasi, improvisasi, analisis, evaluasi dan finishing. Karya Paradoks menggunakan mode penyajian representatif dan simbolis menurut Ben Suharto yaitu pengungkapan mempresentasikan bentuk asli objek yang dijadikan ide. Dari hasil karya ini dapat disimpulkan bahwa dari fokus yang terpilih, koreografer berharap untuk semua penikmat agar dapat belajar dari sebuah objek sederhana, dari hal kecil menjadi besar, dari yang susah menjadi mudah dan mengembangkan pemikiran serta penafsiran sesuatu yang berdasar pada ide gagasan yang menimbulkan sebuah kreatifitas dalam memaknai hal-hal dalam kehidupan.







Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.