FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSISTENSI INDUSTRI GERABAH DI DESA RENDENG KECAMATAN MALO KABUPATEN BOJONEGORO

SASMITO WAHYU PRABOWO, RINDAWATI

Abstract


Abstrak
Desa Rendeng, Kecamatan Malo, Kabupaten Bojonegoro, adalah satu-satunya sentra industri gerabah di Kabupaten Bojonegoro yang masih tetap eksis sampai sekarang meskipun mengalami berbagai gempuran zaman, serta persaingan dengan industri gerabah dari kota atau kabupaten lain yang sama-sama memilki kualitas yang bagus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi eksistensi industri gerabah di Desa Rendeng Kecamatan Malo Kabupaten Bojonegoro, strategi eksis pengrajin industri gerabah serta kondisi lingkungan fisik bahan baku tanah liat di bantaran sungai Bengawan Solo dan pegunungan kapur lahan milik perhutani.
Jenis penelitian ini adalah survei. Lokasi penelitian dilakukan di Desa Rendeng Kecamatan Malo Kabupaten Bojonegoro, populasi dari penelitian ini adalah seluruh pengrajin industri gerabah yaitu 117 pengrajin gerabah. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 50% dari total pengrajin yaitu sebanyak 59 responden. Teknik pengambilan sampel dengan mengunakan Proportional random sampling, pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, angket/kuisioner dan dokumentasi, teknik analisis data yang digunakan yaitu deskriptif kuantitatif dengan prosentase sederhana.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor-faktor eksistensi industri gerabah adalah : a) bahan baku masih tergolong mudah didapatkan sebanyak 71,1% responden, b) modal sebagian besar berasal dari modal pribadi pengrajin sebanyak 71,1% responden, c) tenaga kerja kebanyakan berasal dari dalam desa sendiri sebanyak 81,3% responden, d) pemasaran dengan cara menjual barang melalui perantara atau pesanan sebanyak 61% responden, e) pendapatan pengrajin rata-rata sebesar Rp. 600.000 – 1.500.000 sebanyak 59,9% responden. Strategi eksis yang dipakai oleh pengrajin yaitu dengan memaksimalkan jaringan pemasaran yang sudah ada dan membuat inovasi baru gerabah sebanyak 69,4% responden, kondisi lingkungan fisik bahan baku tanah liat di bantaran sungai Bengawan Solo dan lahan milik perhutani mengalami erosi dan longsor sehingga menghilangkan dua lapisan tanah yaitu lapisan tanah atas (topsoil) dan lapisan tanah bawah (subsoil) yang akan berpengaruh pada kesuburan tanah. Akan tetapi masyarakat tetap memiliki upaya menjaga kondisi lingkungan fisik agar tetap terjaga salah satunya dengan mempertahankan tradisi mengambil tanah liat secukupnya dengan tetap mengunakan cara tradisional dan melakukan penanaman pohon.
Kata Kunci : eksistensi industri, strategi eksis, kondisi lingkungan fisik

Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.